بسم الله الرحمن الرحيم
Ditulis Oleh Abu ‘Abdillah Muhammad Ja’far Piliong
Kota Jambi ( Jumadil Akhir 1432 H)
Nabi Muhammad صلى الله عليه وعلى أله وسلم telah menyampaikan bahwa
umat ini akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya akan masuk
neraka kecuali satu golongan saja yaitu Firqotun Najiyah (golongan
yang selamat). Banyak hadits yang menyebutkan tentang hal ini,
diantaranya dari ‘Abdullah Ibn Amr Ibn Al ‘Ash رضي الله عنهما :
قَالَ النَبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَسَلَّمَ: إِنِّ
بَنِى إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً
وَتَفْتَرِقُ أُمًّتِى عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلًّةً, كُلُّهُمْ
فِى النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً, قَلُوْا وَمَنْ هِيَ يَا
رَسُوْلُ اللهِ؟ مَا أَنَ عَلَيْهِ وَأصْحَابِى (اخرجه الترمذى 2641,
اللالكائى, شرح إعتقاد أهل السنة 147, وبن بطة في الإبانة 71)
Ada penguat-penguat lain dari hadits Abu Hurairah, Mu’awiyah Ibn Abi
Sufyan, Anas Ibn Malik, ‘Auf Ibn Malik dan Ibnu Mas’ud رضي الله عنهم.
Artinya:
Nabi صلى الله عليه وعلى أله وسلم bersabda, “Sesungguhnya Bani Israil
telah berpecah belah menjadi 72 golongan dan umatku akan terpecah
belah menjadi 73 golongan, mereka semua di neraka kecuali satu
golongan”, sahabat bertanya, “Siapakah golongan (yang selamat) itu
wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Apa yang aku dan sahabatku ada di
atasnya.”
Dari Hudzaifah Ibnul Yaman رضي الله عنه dia berkata, “Dahulu manusia
bertanya kepada Rasulullah صلى الله عليه وعلى أله وسلم tentang
kebaikan sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang kejelekan karena
khawatir akan menimpa diriku.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah,
sesungguhnya kami dulu berada di masa jahiliyah dan keburukan,
kemudian Allah mendatangkan kepada kami kebaikan (Islam) ini. Apakah
setelah kebaikan (Islam) ini ada kejelekan?” Beliau menjawab, “Ya.”
Aku bertanya, “Apakah setelah keburukan tersebut ada kebaikan?” Beliau
menjawab, “Ya, akan tetapi ada dakhon.” Aku bertanya, “Apakah itu
wahai rasulullah?” Beliau menjawab, “Suatu kaum yang tidak berpegang
dengan sunnahku dan mengambil petunjuk bukan dengan petunjukku,
padahal engkau mengenal mereka akan tetapi engkau ingkari.” Aku
bertanya lagi, “Apakah setelah kebaikan tersebut ada keburukan?”
Beliau menjawab, “Ya, yaitu para da’i yang mengajak kepada pintu-pintu
neraka jahanam. Barangsiapa yang menyambut ajakan mereka, maka mereka
akan melemparkannya ke neraka jahanam.” Aku bertanya, “Wahai
Rasulullah sebutkanlah cirri-ciri mereka.” Beliau menjawab, “Suatu
kaum yang kulitnya sama dengan kita dan berbicara dengan bahasa kita.”
Aku bertanya, “Wahai Rasulullah apa saran engkau jika aku mendapatkan
keadaan yang demikian?” Beliau menjawab, “Berpegang teguhlah dengan
jama’ah kaum muslimin dan pemimpin mereka.” Aku bertanya, “Jika mereka
tidak mempunyai jama’ah dan pemimpin?” Beliau menjawab, “Tinggalkanlah
kelompok-kelompok (sesat) itu walaupun engkau menggigit akar pohon
sehingga kematian dating menjemputmu dalam keadaan engkau seperti itu.
(Mutafaqun ‘Alaihi).
Penjelasan Point-Point Dari Hadits di Atas
Allah عز وجلى menetapkan adanya fitnah dan ujian kepada makhluknya
agar orang yang jujur terbedakan dari orang-orang yang dusta,
sebagaimana firman-Nya:
الم
أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا
يُفْتَنُونَ
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ
الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan
(saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji
lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum
mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan
Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Q.S. Al Ankabut:
1-3).
Fitnah ini adalah sunnatullah yakni suatu ketetapan dari Allah yang
pasti terjadi dan mengandung hikmah ilahiyah. Jika seandainya tidak
ada fitnah ini, niscaya akan tercampur antara haq dengan batil, antara
orang mukmin dengan orang munafiq dan pengikut keduanya. Oleh karena
itu tahdzir (memperingatkan) merupakan manhaj (metode/jalan) para nabi
dalam dakwah kepada Allah, mengenal jalan orang-orang jahat,
menyimpang, ahlu batil agar terang dan jelas sehingga tidak tercampur
dengan jalan orang-orang mukmin;
Tidak cukup mempelajari kebaikan-kebaikan saja, namun harus
megetahui keburukan-keburukan agar bisa dijauh, seperti kesyirikan,
bid’ah, kekufuran, dll karena jika tidak mengetahui keburukan maka
bisa jadi akan tergelincir ke dalamnya, sebagaimana ucapan penyair:
“Aku mengenal keburukan bukanlah untuk berbuat keburukan akan tetapi
agar aku terlindung darinya.
Barangsiapa yang tidak mengenal keburukan dari kebaikan maka dia akan
terjerumus darinya.”
Al Qur’an menjelaskan yang haq dan batil, iman dan kufur, tauhid dan
syirik, halal dan haram. Nabi صلى الله عليه وسلم menjelaskan yang haq
dan batil pada seluruh urusan agama. Demikian juga para ulama dalam
karya-karya mereka;
Jahiliyah disandarkan kepada kata “jahil” yaitu tidak ada ilmu.
Jahiliyah adalah periode kosong yang tidak ada Rasul dan kitab suci
yaitu sebelum diutusnya Nabi Muhammad صلى الله عليه وعلى أله وسلم,
oleh karena itu mengatakan umat Islam sekarang ini dalam masa
jahiliyah atau lebih dari itu adalah penentangan terhadap Al Qur’an,
sunnah nabawiyah dan ilmu-ilmu yang menyebar di tengah-tengah kita.
Hal ini juga mengandung pengkafiran terhadap umat Islam. Ungkapan ini
(mengatakan umat Islam sekarang ini dalam masa jahiliyah) sering
dipakai oleh kelompok Khawarij Takfiri (kelompok yang menentang
penguasa dan mudah mengkafirkan) modern abad ini.
Yang benar dalam permasalahan ini yakni dengan mengucapkan masih
tersisa sebagian dari perangai jahiliyah pada sebagian pribadi
manusia, suku atau daerah. Inilah yang dimaksud dengan jahiliyah
juziyyah (sepotong/parsial), sebagaimana sabda Rasulullah صلى الله
عليه وعلى أله وسلم:
قَالَ النَبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَسَلَّم: أَرْبَعٌ
فِى أُمَّتِيْ مِنْ أُمُوْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُوْ هُنَّ
الطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ وَالْفَخْرُ بِا لأَحْسَابِ وَالنِّيَاحَةُ
عَلَى الْمَيِّتِ وَالإِسْتِسْقَاءُ بِاالنُّجُوْمِ (رواه البخرى 3850,
مسلم 934)
Artinya:
Nabi صلى الله عليه وعلى أله وسلم bersabda, “Ada 4 perkara dari perkara-
perkara jahiliyah yang tidak ditinggalkan : mencela nasab (keturunan),
sombong dengan kedudukan, meratapi mayit, memohon hujan dengan bintang-
bintang”. (Mutafaqun ‘Alaihi).
Ketika Nabi صلى الله عليه وعلى أله وسلم mendengar seseorang mengejek
saudaranya dengan ucapan “wahai anak orang hitam”, maka beliau
bersabda padanya, “Apakah engkau mengejeknya karena ibunya?
Sesungguhnya engkau adalah seseorang yang (pada dirimu ) ada perkara
jahiliyah. (Hadits Riwayat Bukhari 30, 2545, 6050 Muslim 1661).
As Syarr (keburukan) maksudnya adalah keadaan manusia diatas keburukan
sebelum diutusnya Rasulullah صلى الله عليه وعلى أله وسلم;
Kebaikan (Islam) datang dari sisi Allah عز وجلّ;
Perkataan Hudzaifah, “Apakah setelah kebaikan (Islam) ini ada
keburukan lagi?” maksudnya adalah seorang muslim tidaklah aman dari
fitnah para penyeru kesesatan dan keburukan.
Beliau صلى الله عليه وعلى أله وسلم menjawab, “Ya.” Maka disini dapat
diambil faedah bahwa ini merupakan berita dari Rasulullah صلى الله
عليه وعلى أله وسلم mengenai akan datangnya keburukan setelah datangnya
kebaikan (Islam) yang dibawa beliau. Dan hal ini telah terbukti dengan
munculnya kelompok-kelompok sesat seperti: Syi’ah, Khawarij, Murji’ah,
Qadariyah, Jahmiyah, Mu’tazilah, Jabbariyah, dll;
Setelah keburukan tersebut ada kebaikan, maknanya adalah keburukan
itu tidaklah kekal melainkan seorang muslim akan menanti kelapangan
dari Allah عز وجل, sebagaimana firman Nya:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya
sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Q.S. Ash Sharh: 5-6).
Betapapun banyaknya fitnah dan kejelekan, sesungguhnya dengan izin
Allah عز وجل akan senantiasa ada sekelompok manusia yang menampakkan
al Haq, sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وعلى أله وسلم:
لَايَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِيْنَ
لَايَضُرُّهُمْ مَنْ خَزَ لَهُمْ وَلَا مَنْ حَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِى
أَمَرَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى
Artinya:
Senantiasa aka nada sekelompok dari umatku menampakkan al haq,
tidaklah membahayakan mereka orang-orang yang menghinakan dan
menyelisihinya sampai datang keputusan Allah Tabaaraka Wa Ta’ala.
(Bukhori 7311 dan Muslim 1921);
Aku (Hudzaifah) bertanya, “Dan apakah setelah keburukan ini akan
ada kebaikan?” Beliau menjawab, “Ya.” Ini merupakan faedah tentang
adanya kelapangan sehingga manusia tidak boleh berputus asa dari
rahmat Allah عز وجل, oleh karena itu teruslah berdakwah di jalan Allah
عز وجل;
Ucapan beliau, “Dalam kebaikan tersebut terdapat ad dakhan.”
Maknanya: ini menunjukkan suatu kebaikan yang diiringi perubahan;
Perubahan tersebut adalah sebuah kaum yang mempunyai penyimpangan-
penyimpangan. Mereka menyelisihi sunnah Nabi صلى الله عليه وعلى أله
وسلم. Beliau menyebutkan “ad dakhan” yang terdapat padanya bahaya dan
kekurangan.
Dalam hal ini seorang muslim tidaklah divonis kafir selama tidak
melakukan syirik besar atau melakukan salah satu perbuatan yang
menyebabkan batalnya keislaman, tetapi divonis bersalah atau sesat;
Aku (Hudzaifah) bertanya, “Apakah sesudah kebaikan ini ada
keburukan?” Beliau menjawab, “Ya.” Hal ini adalah untuk yang ketiga
kalinya akan tetapi lebih besar dari yang pertama, yakni para da’i
yang menyeru kepada neraka jahanam, oleh karenanya wajib bagi seorang
muslim berhati-hati terhadap mereka;
Barangsiapa tunduk, mendengarkan dan menolong mereka maka mereka
akan menggiringnya ke neraka;
Berpegang teguh dengan jama’ah kaum muslimin dan penguasa mereka;
Meninggalkan setiap jama’ah yang menyimpang dari sunnah Rasul,
salaf as shalih, jama’ah kaum muslimin, terlebih lagi tatkala tidak
ada jama’ah dan pemimpin kaum muslimin;
Amalan-amalan itu ditentukan dengan amalan penutupnya.