بسم الله الرحمن الرحيم

Ditulis Oleh Abu ‘Abdillah Muhammad Ja’far Piliong
Kota Jambi ( Jumadil Akhir 1432 H)

Nabi Muhammad صلى الله عليه وعلى أله وسلم telah menyampaikan bahwa
umat ini akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya akan masuk
neraka kecuali satu golongan saja yaitu Firqotun Najiyah (golongan
yang selamat). Banyak hadits yang menyebutkan tentang hal ini,
diantaranya dari ‘Abdullah Ibn Amr Ibn Al ‘Ash رضي الله عنهما :
قَالَ النَبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَسَلَّمَ: إِنِّ
بَنِى إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً
وَتَفْتَرِقُ أُمًّتِى عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلًّةً, كُلُّهُمْ
فِى النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً, قَلُوْا وَمَنْ هِيَ يَا
رَسُوْلُ اللهِ؟ مَا أَنَ عَلَيْهِ وَأصْحَابِى (اخرجه الترمذى 2641,
اللالكائى, شرح إعتقاد أهل السنة 147, وبن بطة في الإبانة 71)

Ada penguat-penguat lain dari hadits Abu Hurairah, Mu’awiyah Ibn Abi
Sufyan, Anas Ibn Malik, ‘Auf Ibn Malik dan Ibnu Mas’ud رضي الله عنهم.

Artinya:

Nabi صلى الله عليه وعلى أله وسلم bersabda, “Sesungguhnya Bani Israil
telah berpecah belah menjadi 72 golongan dan umatku akan terpecah
belah menjadi 73 golongan, mereka semua di neraka kecuali satu
golongan”, sahabat bertanya, “Siapakah golongan (yang selamat) itu
wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Apa yang aku dan sahabatku ada di
atasnya.”

Dari Hudzaifah Ibnul Yaman رضي الله عنه dia berkata, “Dahulu manusia
bertanya kepada Rasulullah صلى الله عليه وعلى أله وسلم tentang
kebaikan sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang kejelekan karena
khawatir akan menimpa diriku.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah,
sesungguhnya kami dulu berada di masa jahiliyah dan keburukan,
kemudian Allah mendatangkan kepada kami kebaikan (Islam) ini. Apakah
setelah kebaikan (Islam) ini ada kejelekan?” Beliau menjawab, “Ya.”
Aku bertanya, “Apakah setelah keburukan tersebut ada kebaikan?” Beliau
menjawab, “Ya, akan tetapi ada dakhon.” Aku bertanya, “Apakah itu
wahai rasulullah?” Beliau menjawab, “Suatu kaum yang tidak berpegang
dengan sunnahku dan mengambil petunjuk bukan dengan petunjukku,
padahal engkau mengenal mereka akan tetapi engkau ingkari.” Aku
bertanya lagi, “Apakah setelah kebaikan tersebut ada keburukan?”
Beliau menjawab, “Ya, yaitu para da’i yang mengajak kepada pintu-pintu
neraka jahanam. Barangsiapa yang menyambut ajakan mereka, maka mereka
akan melemparkannya ke neraka jahanam.” Aku bertanya, “Wahai
Rasulullah sebutkanlah cirri-ciri mereka.” Beliau menjawab, “Suatu
kaum yang kulitnya sama dengan kita dan berbicara dengan bahasa kita.”
Aku bertanya, “Wahai Rasulullah apa saran engkau jika aku mendapatkan
keadaan yang demikian?” Beliau menjawab, “Berpegang teguhlah dengan
jama’ah kaum muslimin dan pemimpin mereka.” Aku bertanya, “Jika mereka
tidak mempunyai jama’ah dan pemimpin?” Beliau menjawab, “Tinggalkanlah
kelompok-kelompok (sesat) itu walaupun engkau menggigit akar pohon
sehingga kematian dating menjemputmu dalam keadaan engkau seperti itu.
(Mutafaqun ‘Alaihi).

Penjelasan Point-Point Dari Hadits di Atas

Allah عز وجلى menetapkan adanya fitnah dan ujian kepada makhluknya
agar orang yang jujur terbedakan dari orang-orang yang dusta,
sebagaimana firman-Nya:

الم
أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا
يُفْتَنُونَ
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ
الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan
(saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji
lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum
mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan
Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Q.S. Al Ankabut:
1-3).

Fitnah ini adalah sunnatullah yakni suatu ketetapan dari Allah yang
pasti terjadi dan mengandung hikmah ilahiyah. Jika seandainya tidak
ada fitnah ini, niscaya akan tercampur antara haq dengan batil, antara
orang mukmin dengan orang munafiq dan pengikut keduanya. Oleh karena
itu tahdzir (memperingatkan) merupakan manhaj (metode/jalan) para nabi
dalam dakwah kepada Allah, mengenal jalan orang-orang jahat,
menyimpang, ahlu batil agar terang dan jelas sehingga tidak tercampur
dengan jalan orang-orang mukmin;

Tidak cukup mempelajari kebaikan-kebaikan saja, namun harus
megetahui keburukan-keburukan agar bisa dijauh, seperti kesyirikan,
bid’ah, kekufuran, dll karena jika tidak mengetahui keburukan maka
bisa jadi akan tergelincir ke dalamnya, sebagaimana ucapan penyair:

“Aku mengenal keburukan bukanlah untuk berbuat keburukan akan tetapi
agar aku terlindung darinya.

Barangsiapa yang tidak mengenal keburukan dari kebaikan maka dia akan
terjerumus darinya.”

Al Qur’an menjelaskan yang haq dan batil, iman dan kufur, tauhid dan
syirik, halal dan haram. Nabi صلى الله عليه وسلم menjelaskan yang haq
dan batil pada seluruh urusan agama. Demikian juga para ulama dalam
karya-karya mereka;

Jahiliyah disandarkan kepada kata “jahil” yaitu tidak ada ilmu.
Jahiliyah adalah periode kosong yang tidak ada Rasul dan kitab suci
yaitu sebelum diutusnya Nabi Muhammad صلى الله عليه وعلى أله وسلم,
oleh karena itu mengatakan umat Islam sekarang ini dalam masa
jahiliyah atau lebih dari itu adalah penentangan terhadap Al Qur’an,
sunnah nabawiyah dan ilmu-ilmu yang menyebar di tengah-tengah kita.
Hal ini juga mengandung pengkafiran terhadap umat Islam. Ungkapan ini
(mengatakan umat Islam sekarang ini dalam masa jahiliyah) sering
dipakai oleh kelompok Khawarij Takfiri (kelompok yang menentang
penguasa dan mudah mengkafirkan) modern abad ini.

Yang benar dalam permasalahan ini yakni dengan mengucapkan masih
tersisa sebagian dari perangai jahiliyah pada sebagian pribadi
manusia, suku atau daerah. Inilah yang dimaksud dengan jahiliyah
juziyyah (sepotong/parsial), sebagaimana sabda Rasulullah صلى الله
عليه وعلى أله وسلم:
قَالَ النَبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَسَلَّم: أَرْبَعٌ
فِى أُمَّتِيْ مِنْ أُمُوْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُوْ هُنَّ
الطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ وَالْفَخْرُ بِا لأَحْسَابِ وَالنِّيَاحَةُ
عَلَى الْمَيِّتِ وَالإِسْتِسْقَاءُ بِاالنُّجُوْمِ (رواه البخرى 3850,
مسلم 934)

Artinya:

Nabi صلى الله عليه وعلى أله وسلم bersabda, “Ada 4 perkara dari perkara-
perkara jahiliyah yang tidak ditinggalkan : mencela nasab (keturunan),
sombong dengan kedudukan, meratapi mayit, memohon hujan dengan bintang-
bintang”. (Mutafaqun ‘Alaihi).

Ketika Nabi صلى الله عليه وعلى أله وسلم mendengar seseorang mengejek
saudaranya dengan ucapan “wahai anak orang hitam”, maka beliau
bersabda padanya, “Apakah engkau mengejeknya karena ibunya?
Sesungguhnya engkau adalah seseorang yang (pada dirimu ) ada perkara
jahiliyah. (Hadits Riwayat Bukhari 30, 2545, 6050 Muslim 1661).

As Syarr (keburukan) maksudnya adalah keadaan manusia diatas keburukan
sebelum diutusnya Rasulullah صلى الله عليه وعلى أله وسلم;

Kebaikan (Islam) datang dari sisi Allah عز وجلّ;

Perkataan Hudzaifah, “Apakah setelah kebaikan (Islam) ini ada
keburukan lagi?” maksudnya adalah seorang muslim tidaklah aman dari
fitnah para penyeru kesesatan dan keburukan.

Beliau صلى الله عليه وعلى أله وسلم menjawab, “Ya.” Maka disini dapat
diambil faedah bahwa ini merupakan berita dari Rasulullah صلى الله
عليه وعلى أله وسلم mengenai akan datangnya keburukan setelah datangnya
kebaikan (Islam) yang dibawa beliau. Dan hal ini telah terbukti dengan
munculnya kelompok-kelompok sesat seperti: Syi’ah, Khawarij, Murji’ah,
Qadariyah, Jahmiyah, Mu’tazilah, Jabbariyah, dll;

Setelah keburukan tersebut ada kebaikan, maknanya adalah keburukan
itu tidaklah kekal melainkan seorang muslim akan menanti kelapangan
dari Allah عز وجل, sebagaimana firman Nya:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya
sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Q.S. Ash Sharh: 5-6).

Betapapun banyaknya fitnah dan kejelekan, sesungguhnya dengan izin
Allah عز وجل akan senantiasa ada sekelompok manusia yang menampakkan
al Haq, sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وعلى أله وسلم:
لَايَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِيْنَ
لَايَضُرُّهُمْ مَنْ خَزَ لَهُمْ وَلَا مَنْ حَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِى
أَمَرَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

Artinya:

Senantiasa aka nada sekelompok dari umatku menampakkan al haq,
tidaklah membahayakan mereka orang-orang yang menghinakan dan
menyelisihinya sampai datang keputusan Allah Tabaaraka Wa Ta’ala.
(Bukhori 7311 dan Muslim 1921);

Aku (Hudzaifah) bertanya, “Dan apakah setelah keburukan ini akan
ada kebaikan?” Beliau menjawab, “Ya.” Ini merupakan faedah tentang
adanya kelapangan sehingga manusia tidak boleh berputus asa dari
rahmat Allah عز وجل, oleh karena itu teruslah berdakwah di jalan Allah
عز وجل;

Ucapan beliau, “Dalam kebaikan tersebut terdapat ad dakhan.”
Maknanya: ini menunjukkan suatu kebaikan yang diiringi perubahan;

Perubahan tersebut adalah sebuah kaum yang mempunyai penyimpangan-
penyimpangan. Mereka menyelisihi sunnah Nabi صلى الله عليه وعلى أله
وسلم. Beliau menyebutkan “ad dakhan” yang terdapat padanya bahaya dan
kekurangan.

Dalam hal ini seorang muslim tidaklah divonis kafir selama tidak
melakukan syirik besar atau melakukan salah satu perbuatan yang
menyebabkan batalnya keislaman, tetapi divonis bersalah atau sesat;

Aku (Hudzaifah) bertanya, “Apakah sesudah kebaikan ini ada
keburukan?” Beliau menjawab, “Ya.” Hal ini adalah untuk yang ketiga
kalinya akan tetapi lebih besar dari yang pertama, yakni para da’i
yang menyeru kepada neraka jahanam, oleh karenanya wajib bagi seorang
muslim berhati-hati terhadap mereka;

Barangsiapa tunduk, mendengarkan dan menolong mereka maka mereka
akan menggiringnya ke neraka;

Berpegang teguh dengan jama’ah kaum muslimin dan penguasa mereka;

Meninggalkan setiap jama’ah yang menyimpang dari sunnah Rasul,
salaf as shalih, jama’ah kaum muslimin, terlebih lagi tatkala tidak
ada jama’ah dan pemimpin kaum muslimin;

Amalan-amalan itu ditentukan dengan amalan penutupnya.

Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

1. Dari Suhail bin Hanzhaliyah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati unta yang kurus, lalu beliau bersabda,

اِتَّقُوا اللهَ فِيْ هَذِهِ الْبَهَائِمِ الْمُعْجَمَةِ فَأَرْكَبُوْهَا صَالِحَةً ، وَكُلُوْهَا صَالِحَةً

“Bertaqwalah kepada Allah dari unta ini, dan kendarailah dengan baik serta beri makan yang baik”. (HR. Abu Dawud dan dihasankan oleh Al-Arnauth).

2. Dari ‘Abdullah dari bapaknya, beliau berkata, “Dahulu kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam safar, lalu beliau berpaling sebentar untuk suatu hajat, kami melihat Humarah (burung berwarna merah) bersama dua anaknya. Kami pun mengambil dua anak tersebut dan datanglah induknya dengan kebingungan (mengepak-epak sayapnya). Tatkala itu datang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bersabda,

مَنْ فَجَعَ هَذِهِ بولدها ؟ رُدُّوا وَلَدَهَا إِلَيْهَا

“Siapa yang menyakiti burung ini? Kembalikan anaknya ini pada burung ini”.

Dan ketika beliau melihat sekumpulan semut yang kami bakar sarangnya, beliau bersabda,

مَنْ أَحْرَقَ هَذِهِ؟

“Siapa yang telah membakar ini?”

Kami menjawab, “Kami (yang telah membakarnya)”. Beliau bersabda,

لاَ يَنْبَغِي أَنْ يُعذب بِالنَّارِ إِلاَّ رَبُّ النَّارِ

“Tidak sepantasnya mengadzab dengan api melainkan Rabbun Nar (yaitu Allah ta’ala)”. (HR. Ahmad dan selainnya dan dishahihkan oleh Al-Arnauth).

3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memiringkan bejana untuk seekor kucing sehingga kucing tersebut bisa minum air darinya. Kemudian beliau berwudhu dengan sisanya. (HR. Ath-Thabrani dengan sanad shahih.)

4. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللهَ كَتَبَ اْلإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوْا الْقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَةِ ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ ، فََلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan ihsan (kebaikan) atas segala sesuatu, maka jika kalian membunuh, maka perbaguslah dalam membunuhnya, dan jika menyembelih, maka perbaguslah sembelihannya, dan hendaklah kalian menajamkan pisaunya dan menenangkan sesembelihannya”. (HR. Muslim).

5. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati seseorang yang menginjakkan kakinya di atas lambung seekor kambing sambil menajamkan pisaunya dan diperlihatkan di depan mata kambing itu. Beliau bersabda,

أَتُرِيْدُ أَنْ تميتها مَوْتَتَيْنِ ؟ هَلا حَدَّدْتَ شفرتَكَ قَبْلَ أَنْ تضجعَهَا

“Apakah kamu ingin membunuhnya dengan dua kematian? Tidakkah kamu tajamkan pisaumu sebelum kamu merebahkannya?” (HR. Al-Hakim dan beliau berkata hadits ini shahih atas syarat shahih Al-Bukhari dan Muslim, dan disepakati pula oleh Adz-Dzahabi)

6. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عُذِّبَتِ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ سَجَنَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ فَدَخَلَتْ فِيهَا النَّارَ لَا هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَلَا سَقَتْهَا إِذْ حَبَسَتْهَا وَلَا هِيَ تَرَكَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ

“Seorang wanita telah diazab karena mengurung seekor kucing sampai mati dan dia dimasukkan dalam neraka, karena dia tidak memberi makan dan minum ketika mengurungnya dan tidak pula dia melepaskannya sehingga bisa makan serangga”. (HR. Al Bukhari)

(Diterjemahkan untuk blog http://ulamasunnah.wordpress.com dari Qutuf min Syamail Muhammadiyyah, karya Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu)

Naskah Arab:

رحمة الرسول صلى الله عليه وسلم بالحيوان :
1- وعن سهيل بن الحنظلية قال : مرّ رسول الله صلى الله عليه وسلم ، ببعير قد لحق ظهره ببطنه ، فقال : (اتقوا الله في هذه البهائم المعجمة فأركبوها صالحة ، وكلوها صالحة) . “المعجمة : التي لا تنطق” .
2- وعن عبدالله ، عن أبيه قال : كنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في سفر ، فانطلق لحاجته ، فرأينا (حُمرة) معها فرخان ، فأخذنا فرخيها ، فجاءت الحمرة ، فجعلت تُعرش ، فلما جاء رسول الله صلى الله عليه وسلم ، قال : من فجع هذه بولدها ؟ ردوا ولدها إليها ، ورأى قرية نمل قد أحرقناها ، فقـال : من أحرق هذه ؟ قلنا : نحن ، قال : لا ينبغي أن يُذب بالنار إلا رب النار.
(الحمرة : طائر يشبه العصفور) ، ( تُعرش : ترفرف) .
3- كان صلى الله عليه وسلم ، يُصغي للهرة الإناء ، فتشرب ثم يتوضأ ، بفضلها ، (يصغي ، يميل) .
4- وقال صلى الله عليه وسلم : ( إن الله كتب الإحسان على كل شئ ، فإذا قتلتم فأحسنوا القتلة ، وإذا ذبحتم فأحسنوا الذبحة ، وليحد أحدكم شفرته ، وليرح ذبيحته) .
5- وعن ابن عباس رضي الله عنهما قال : مرّ رسول الله صلى الله عليه وسلم على رجل واضع رجله على صفحة شاة وهو يحد شفرته ، وهي تلحظ إليه ببصرها ، فقال : أتريد أن تميتها موتتين ؟ هلا حددت شفرتك قبل أن تضجعها ؟ (تلحظ : تنظر) .
6- وقال صلى الله عليه وسلم : ( عُذبت امرأة في هرة سجنتها حتى ماتت ، فدخلت فيها النار ، لا هي أطعمتها وسقتها إذ حبستها ، ولا هي تركتها تأكل خشاش الأرض) . ” خشاش الأرض : حشراتها ” .

*1 ONS BUKAN 100 GRAM.*

PENDIDIKAN YANG MENJADI BOOMERANG.

Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK akhir tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini terkuak ketika seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara langsung proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal.

Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya menggunakan satuan pound dan ounce. Kesalahan fatal muncul karena yang bersangkutan mengartikan 1 pound = 0,5 kg. dan 1 ounce (ons) = 100 gram,
sesuai pelajaran yang ia terima dari sekolah.

Sebelum PHK dijatuhkan, teman saya diberi tenggang waktu 7 hari untuk membela diri dgn. cara menunjukkan acuan ilmiah yang menyatakan 1 ounce (ons) = 100 g. Usaha maksimum yang dilakukan hanya bisa menunjukkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengartikan ons (bukan ditulis ounce) adalah satuan berat senilai 1/10 Kilogram. Acuan lain termasuk tabel-tabel konversi yang berlaku sah atau dikenal secara Internasional tidak bisa ditemukan.

SALAH KAPRAH YANG TURUN-TEMURUN.

Prihatin dan penasaran atas kasus diatas, saya mencoba Menanyakan hal ini kepada lembaga yang paling berwenang atas system takar-timbang dan ukur di Indonesia , yaitu Direktorat Metrologi. Ternyata, pihak Dir. Metrologi pun telah lama melarang pemakaian satuan ons untuk ekivalen 100 gram. Mereka justru mengharuskan pemakaian satuan yang termasuk dalam Sistem Internasional (metrik) yang diberlakukan resmi di Indonesia . Untuk ukuran berat, satuannya adalah gram dan kelipatannya. Satuan *Ons bukanlah bagian dari sistem metrik* ini dan untuk menghilangkan kebiasaan memakai satuan ons ini, Direktorat Metrologi sejak lama telah memusnahkan semua anak timbangan (bandul atau timbal) yang bertulisan “ons” dan “pound”.

Lepas dari adanya kebiasaan kita mengatakan 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, ternyata *tidak pernah ada acuan system takar-timbang legal* atau pengakuan internasional atas satuan ons yang nilainya setara dengan 100 gram. Dan dalam sistem timbangan legal yang diakui dunia internasional, *tidak pernah dikenal adanya satuan ONS khusus ** Indonesia **. Jadi, hal ini adalah suatu kesalahan yang diwariskan turun-temurun.

Sampai kapan mau dipertahankan ?

BAGAIMANA KESALAHAN DIAJARKAN SECARA RESMI ?

Saya sendiri pernah menerima pengajaran salah ini ketika masih di bangku sekolah dasar. Namun, ketika saya memasuki dunia kerja nyata, kebiasaan salah yang nyata-nyata diajarkan itu harus dibuang jauh karena akan
menyesatkan. Beberapa sekolah telah saya datangi untuk melihat sejauh mana penyadaran akan penggunaan sistem takar-timbang yang benar dan sah dikemas dalam materi pelajaran secara benar, dan bagaimana para murid (anak-anak kita) menerapkan dalam hidup sehari-hari. Sungguh memprihatinkan. Semua sekolah mengajarkan bahwa 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, dan anak-anak kita pun menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari. “Racun” ini sudah tertanam didalam otak anak kita sejak usia dini. Dari para guru, saya
mendapatkan penjelasan bahwa semua buku pegangan yang diwajibkan atau disarankan oleh Departemen Pendidikan Indonesia mengajarkan seperti itu.

Karena itu, tidaklah mungkin Bagi para guru untuk melakukan koreksi selama Dep. Pendidikan belum merubah atau memberikan petunjuk resmi.

TANGGUNG JAWAB SIAPA ?

Maka, bila terjadi kasus-kasus serupa diatas, Departemen Pendidikan kita jangan lepas tangan. Tunjukkanlah kepada masyarakat kita terutama kepada para guru yang mengajarkan kesalahan ini, salah satu alasannya agar tidak menjadi beban psikologis bagi mereka; *”acuan sistem timbang legal yang mana yang pernah diakui/ diberlakukan secara internasional, yang menyatakan bahwa : **1 ons adalah 100 gram, 1 pound adalah 500 gram.”?* Kalau Dep. Pendidikan tidak bisa menunjukkan acuannya, mengapa hal ini diajarkan secara resmi di sekolah sampai sekarang ? Pernahkan Dep. Pendidikan menelusuri, di negara mana saja selain Indonesia berlaku konversi 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram? Patut dipertanyakan pula, bagaimana tanggung jawab para penerbit buku pegangan sekolah yang melestarikan kesalahan ini? Kalau Dep. Pendidikan mau mempertahankan satuan *ons yang keliru* ini, sementara pemerintah sendiri melalui Direktorat Metrologi melarang pemakaian satuan “ons” dalam transaksi legal, maka konsekwensinya ialah harus dibuat sistem baru timbangan Indonesia (versi Depdiknas).

Sistem baru inipun harus diakui lebih dulu oleh dunia internasional sebelum diajarkan kepada anak-anak. Perlukah adanya system timbangan Indonesia yang konversinya adalah 1 ons *(Depdiknas) * = 100 gram Dan 1 pound * (Depdiknas) * = 500 gram.? Bagaimana “Ons dan Pound *(Depdiknas) *” ini dimasukkan dalam sistem metric yang sudah baku diseluruh dunia? Siapa yang mau pakai?.

HENTIKAN SEGERA KESALAHAN INI.

Contoh kasus diatas hanyalah satu diantara sekian banyak problema yang merupakan akibat atau korban kesalahan pendidikan. Saya yakin masih banyak kasus-kasus senada yang terjadi, tetapi tidak kita dengar. Salah satu contoh kecil ialah, banyak sekali ibu-ibu yang mempraktekkan resep kue dari buku luar negeri tidak berhasil tanpa diketahui dimana kesalahannya. Karena ini kesalahan pendidikan, masalah ini sebenarnya merupakan masalah nasional pendidikan kita yang mau tidak mau harus segera dihentikan. Departemen Pendidikan tidak perlu malu dan basa-basi diplomatis mengenai hal ini. Mari kita pikirkan dampaknya bagi masa depan anak-anak Indonesia . Berikan teladan kepada bangsa ini untuk tidak malu memperbaiki kesalahan. Sekalipun hanya untuk pelajaran di sekolah, dalam hal Takar-Timbang- Ukur, Dep. Pendidikan tidak memiliki supremasi sedikitpun terhadap Direktorat Metrologi sebagai lembaga yang paling berwenang di Indonesia. Mari kita ikuti satu acuan saja, yaitu Direktorat Metrologi. Era Globalisasi tidak mungkin kita hindari, dan karena itu anak-anak kita harus dipersiapkan dengan benar. Benar dalam arti landasannya, prosesnya, materinya maupun arah pendidikannya. . Mengejar ketertinggalan dalam hal kualitas SDM negara tetangga saja sudah merupakan upaya yang sangat berat. Janganlah malah diperberat dengan *pelajaran sampah* yang justru bakal menyesatkan. Didiklah anak-anak kita untuk mengenal dan mengikuti aturan dan standar yang berlaku SAH dan DIAKUI secara internasional, bukan hanya yang rekayasa lokal saja. Jangan ada lagi korban akibat pendidikan yang salah. Kita lihat yang nyata saja,
berapa banyak TKI diluar negeri yang berarti harus mengikuti acuan yang berlaku secara internasional.

Anak-anak kita memiliki HAK untuk mendapatkan pendidikan yang Benar sebagai upaya mempersiapkan diri
menyongsong masa depannya yang akan penuh dengan tantangan berat.

ACUAN MANA YANG BENAR?

Banyak sekali literatur, khususnya yang dipakai dalam dunia tehnik, dan juga ensiklopedi ternama seperti Britannica, Oxford , dll. *(maaf, ini bukan promosi)* menyajikan tabel-tabel konversi yang tidak perlu diragukan lagi. Selain pada buku literatur, tabel-tabel konversi semacam itu dapat dijumpai dengan mudah di-dalam buku
harian/diary/ agenda yang biasanya diberikan oleh toko atau produsen suatu produk sebagai sarana promosi.
*Salah satu* konversi untuk satuan berat yang umum dipakai SAH secara internasional adalah sistem avoirdupois/ avdp. (baca : averdupoiz).

1 ounce/ons/onza = 28,35 gram *(bukan 100 g.)*
1 pound = 453 gram *(bukan 500 g.)*
1 pound = 16 ounce *(bukan 5 ons)*

Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau seorang apoteker meracik resep obat yang seharusnya hanya diberi 28 gram, namun diberi 100 gram. Apakah kesalahan semacam ini bisa di kategorikan sebagai malapraktek? Pelajarannya memang begitu, kalau murid tidak mengerti, dihukum!!! Jadi, kalau malapraktik, logikanya adalah tanggung jawab yang mengajarkan. (*ini hanya gambaran/ilustrasi salah satu akibat yang bisa ditimbulkan, bukan kejadian sebenarnya, tetapi dalam bidang lain banyak sekali terjadi)*

KALAU BUKAN KITA YANG MENYELAMATKAN – LALU SIAPA ?.

Melalui tulisan ini saya ingin mengajak semua kalangan, baik kalangan pemerintah, akademis, profesi, bisnis/pedagang, sekolah dan orang tua dan juga yang lainnya untuk ikut serta mendukung penghapusan satuan “ons dan pound yang keliru” dari kegiatan kita sehari-hari. Pengajaran sistem timbang dgn. satuan Ounce dan Pound seharusnya diberikan sebagai pengetahuan disertai kejelasan asal-usul serta *rumus konversi yang benar*. Hal ini untuk membuang kebiasaan salah yang telah melekat dalam kebiasaan kita, yang bisa mencelakakan/ menyesatkan anak-anak kita, generasi penerus bangsa ini.

LEMBAR PELENGKAP TAKAR – UKUR – TIMBANG MENGIKUTI SISTEM METRIK YANG BERLAKU SEJAK THN *1799*.

*Kuantitas* *Satuan* *Simbol* *Keterangan*
Panjang meter m bukan mtr.
Luas meter persegi m2
Isi/volume meter kubik m3
Berat gram g bukan gr.
Takaran liter

1 l = 1000 cm3 (cc)
Suhu/temperature derajat Celcius oC

BEBERAPA SEBUTAN/AWALAN UNTUK FAKTOR PENGALI DALAM SISTEM METRIK AWALAN FAKTOR PENGALI SIMBOL/SINGKATAN CONTOH PEMAKAIAN
Giga 1.000.000.000 G GHz.
Mega 1.000.000 M MW
kilo 1.000 k km
hecto 100 h ha
deka 10 da dam
deci 0,1 d dm
centi 0,01 c cm
milli 0,001 m ml
micro 0,000.001 *m* mF
dan seterusnya.

Dalam sistem metrik memang dikenal *1 are = 100 m2* khusus untuk ukuran tanah yang diakui sah secara internasional.

*Untuk satuan ONS yang mengartikan kelipatan 100 g., apalagi POUND yang mengartikan kelipatan 500 g., tidak pernah ada didalam system metrik maupun non-metrik/imperial yang pernah diberlakukan sah secara internasional. *

1305184915

Ada 2 tugas yang harus dikerjakan
1. tugas kelompok ( ada 6 tema makalah silahkan pilih salah satu dat di tugas 7.txt dan tugas 8.txt)

2. Tugas Pribadi
kerjakan 4 soal , di bab 8 tentang virtual memory ( silahkan lihat di handout sistem operasi yang sudah saya copykan )

nb :
waktu 2 minggu

bisa juga lihat di kelas : http://kuantum.mipa.ugm.ac.id

terimakasih

Anjing merupakan binatang ciptaaan Allah. Dia mempunyai bentuk tubuh seperti kucing, macan, atau serigala. Anjing banyak dijumpai di sekitar kita, bahkan banyak orang yang sengaja memelihara anjing baik untuk penjagaan maupun untuk hobi atau kesayangan.   tentang hukum seputar memelihara anjing, artinya ada aturan-aturan seputar memelihara anjing yang harus diperhatikan dan diketahui oleh kita semua, terutama oleh para penyuka (baca= pemelihara) binatang anjing. (more…)

KING FAHD UNIVERSITY OF PETROLEUM & MINERALS (KFUPM)

DEANSHIP OF GRADUATE STUDIES

Dhahran, saudi arabia

It is highly appreciated if you kindly forward this e-mail to potential graduate students in your institute or elsewhere. We apologize if you receive multiple copies of this e-mail.

(more…)

Tahukah Anda apa tujuh dosa yang membinasakan umat manusia ini? Ketujuh dosa itu antara lain:  Kesyirikan kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah untuk dibunuh kecuali dengan haknya, memakan harta anak yatim, memakan riba, lari dari medan pertempuran, dan menuduh wanita mukminah baik-baik berbuat zina.

(more…)

Di sekolah SD, SMP, dan SMA sudah menjadi hal yang lumrah jika ada pelajaran menggambar. Pelajaran menggambar ini termasuk bidang studi keterampilan dan seni budaya. Tapi, tidak semua gambar diperbolehkan. Agama melarang kita menggambar makhluk bernyawa, seperti gambar manusia dan hewan. Mengapa dilarang? Berikut ini alasan mengapa menggambar makhluk bernyawa dilarang.

(more…)

bagi mahasiswa yang mengambil matakuliah Pengenalan Pola, silahkan download materi di bawah

materi 1

Materi 2

materi 3

materi 4

Materi 5

Materi 6

Materi 7

materi 8

materi 9

materi 10

Materi 11

Materi 12

Materi 13

Materi 14

Next Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.